Archive for April 20th, 2009
Esensi Hari Kartini
Saya masih ingat waktu SD, setiap tanggal 21 April selalu ada upacara memperingati hari kartini, dimana murid-murid SD yang perempuan harus mengikuti upacara dengan mengenakan pakaian adat. Hari Kartini yang dimaknai sebagai hari emansipasi wanita ini terkadang hanya dimaknai secara ceremonial belaka. Jika lihat dari anak SD hingga ibu-ibu yang berkumpul dalam suatu organisasi kewanitaan biasanya memperingati hari ini hanya dengan mengenakan pakaian kebaya sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan kartini, padahal jika ditelusuri lebih jauh merekapun terkadang tak mengerti makna apa yang terkandung dalam peringatan hari tersebut. Hari kartini yang selalu diperingati setiap tahunnya ini seharusnya dimaknai secara esensi. Esensinya adalah Semangat perjuangan Kartini dalam membebaskan kaum perempuan dari berbagai belenggu ketidakadilan dalam berbagai bidang kehidupan. Seperti diketahui, pada akhir abad ke 19 dan awal abad 20, kaum perempuan di ndonesia belum memperoleh hak-hak dasar insani berupa kebebasan.
Semboyan R.A Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menjadi begitu bergema bagi kalangan perempuan. Semboyan tersebut lahir sebagai wujud lahirnya sebuah gerakan pembebasan hak wanita dari “pengisolasian gender” dalam tataran tradisi dan budaya yang kelewat mensubordinasikan keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan sosial.
Perjuangan RA Kartini telah mampu mengantarkan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan menuju sebuah perubahan kearah kemajuan, sehingga kaum perempuan dapat berperan dalam pembangunan sumber daya manusia maupun aktivitas pembangunan lainnya. Namun demikian, perempuan tetap tidak boleh meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. Perempuan harus mengerti peran dan tugasnya baik sebagai perempuan maupun sebagai istri. Kadang-kadang dengan emansipasi ini membuat perempuan lupa akan perannya karena kadang perempuan menganggap dirinya sudah mampu mandiri bahkan tidak jarang ia mengambil alih peran pria. Emansipasi bukan berarti membuat perempuan harus selalu mengambil setiap tugas dan peran laki-laki, tetapi bagaimana memberikan dukungan serta partisipasi yang nyata agar tugas laki-laki menjadi lebih mudah terselesaikan.
Dengan demikian apa yang telah diperjuangkan RA Kartini patut menjadi teladan bagi kita semua. Karena perjuangan mewujudkan kesetaraan gender merupakan tanggungjawab bersama.
2 comments April 20, 2009